Apa itu Teknologi Garis Gawang? Keberadaanya Penting Tapi Mahal

Sebuah gol akan diputuskan sah apabila bola sudah melewati garis gawang. Namun, keputusan wasit dalam menentukan gol atau tidak kerap mengundang kontroversi. Oleh sebab itu, FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia telah mengembankan teknologi yang disebut dengan Goal Line Technology (GLT) atau teknologi garis gawang. Teknologi ini digunakan sebagai acuan wasit dalam menentukan sebuah gol.

Teknologi garis gawang diterapkan dengan bantuan seperangkat alat elektronik yang berfungsi memantau apakah bola sudah melewati garis atau belum. Keberadaan teknologi ini bukan untuk menggantikan peran wasit di atas lapangan, melainkan untuk membantu wasit mengambil keputusan.

Menariknya, para penonton yang menyaksikan pertandingan melalui siaran televisi juga bisa menyaksikan proses pengambilan keputusan. Penyiar akan menyajikan tayangan ulang apakah bola sudah sepenuhnya melewati garis gawang atau belum. Tayangan Goal Line Technology ini juga bisa disaksikan oleh penonton yang menyaksikan pertandingan melalui live streaming di W88 link.

Salah satu momen yang melatarbelakangi dikembangkannya teknologi garis gawang adalah tendangan Frank Lampard di Piala Dunia 2010. Terilhat dalam tayangan ulang, bola melewati garis gawang. Namun, wasit dan hakim garis tidak menganggapnya sebagai sebuah gol. Padahal, gol adalah momen krusial di mana keputusan yang diambil oleh wasit harus tepat.


apa itu teknologi garis gawang


Cara Kerja Teknologi Garis Gawang

Ada dua metode yang dapat digunakan untuk menerapkan teknologi garis gawang. Teknologi termurah dan sederhana adalah menanam kabel tipis di bawah rumput atau istilahnya GoalRef. Sementara itu, ada teknologi lain yang lebih mahal dan biasa digunakan oleh FIFA yakni dengan menggunakan 14 kamera atau Goal Line Technology (GLT).

Apabila menggunakan metode pertama, penyelenggara perlu menanam microchip di dalam bola. Agar menjaga microchip tetap berada di tengah bola maka microchip diikat dengan kawat tipis serta dibuat agar tahan guncangan keras. Chip tersebut akan memberikan informasi keberadaan bola di atas lapangan selama permainan sedang berlangsung.

Kabel tipis kemudian akan ditanam di dalam tanah sekitar gawang sedalam 15-20 cm. Kabel ini akan menciptakan medan magnetik yang akan membuat microchip bereaksi ketika melewati medan tersebut. Microchip ini kemudian akan memberikan informasi kepada unit penerima ketika bola melewati garis.

Unit penerima berupa jam tangan yang dikenakan oleh wasit dan hakim garis. Misalnya bola melewati garis dan menyatakan bahwa itu goal, jam tangan tersebut akan menampilkan tulisan “Goal”.

Sementara itu, Goal Line Technology (GLT) yang menggunakan 14 kamera akan memproyeksikan gawang dalam bentuk tiga dimensi. Inilah yang biasa kita saksikan pada tayangan Premier League atau liga-liga top Eropa lainnya. Setiap gawang akan disorot menggunakan tujuh kamera dan kamera-kamera tersebut akan menelusuri di mana posisi bola berada lalu memvisualisasikannya ke model 3D.


Biaya Pemasangan Teknologi Garis Gawang

Di Indonesia telah terjadi beberapa momen di mana teknologi garis gawang seharusnya sudah mulai diterapkan. Salah satunya adalah pertandingan Persib Bandung versus Sriwijaya FC. Pada laga tersebut terdapat sebuah momen di mana bola diklaim oleh wasit telah melewati garis gawang. Namun, kiper Sriwijaya FC tidak menerima keputusan tersebut dan bersikukuh jika bola masih ada di atas garis.

Namun, para pecinta sepakbola Indonesia nampaknya harus bersabar melihat teknologi ini diterapkan di kompetisi lokal karena biaya yang dibutuhkan sangat mahal. Klub-klub di Premier League harus membayar 475,000 Pounds atau setara 7,9 miliar Rupiah untuk menggunakan Goal Line Technology (GLT) di stadion mereka.

Harga tersebut tergolong lebih murah dibanding kompetisi lain seperti di Jerman. Kontestan Bundesliga harus membayar 420,000 Pounds atau sekitar 7,9 miliar Rupiah untuk penggunaan GLT selama tiga tahun.

Banyak klub luar negeri keberatan dengan tingginya biaya pemasangan GLT di stadion mereka. Oleh karena itu, kecil kemungkinan teknologi ini diterapkan di Indonesia. Namun, klub-klub di Indonesia bisa menggunakan teknologi GoalRef sebagai alternatif yang hanya membutuhkan sekitar 2,5 miliar Rupiah per stadion.

im

0 Komentar