Hujan dan 60 km

Hari ini aku hendak mengantar kakakku untuk membawa motor di daerah Ciwaruga, Bandung. Motor itu memang bukan miliknya, melainkan kepunyaan dari adik iparnya. Motor itu ditinggalkan begitu saja di kosannya selama 2 bulan semenjak adik ipar itu wisuda. Sedikit informasi saja, setelah wisuda itu ia langsung bekerja sehingga rasanya tak sempat untuk mengantarkan motor itu pulang.

Tidak ada cerita yang cukup spesial bagiku, hanya mengendalikan kendaraan untuk menuju ke tempat tujuan dengan 2 kali istirahat. Setelah kakakku mengambil motor adik iparnya, dan mendatangi dealer motor sekedar mengganti oli saja karena motor itu akan dibawa ke cileungsi. Aku memutuskan untuk berpisah arah pulang.

cerita pendek menarik

Di dalam perjalanan pulang menuju Garut di lampu merah kampus magister widyatama, aku merasakan ada percikan air di langit, ya aku tahu hujan akan turun. Setelah lampu hijau menyala aku memutuskan untuk memipirkan motorku ke samping hanya sekedar memakai jas hujan untuk melindungi tubuhku dari air hujan.

Dan benar saja keputusanku sangat tepat, huja itu semakin deras. Karena pikiranku ingin cepat sampai, maka aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan hujan yang terus datang semakin deras. Memang menyenangkan sih tapi..........

Saat perjalanan menuju arah ujung berung, air hujan itu berlari-lari dijalanan sehingga aku harus menjalankan kendaraanku dengan perlahan agar tidak terbawa arus. Beberapa kali aku merasakan bahwa motorku terdorong oleh air yang berlari di tengah jalan itu.

Daerah cibiru adalah momen puncaknya, dimana aku hampir terjatuh karena arus air yang lumayan deras membuat motor menjadi oleng saat di gas. Aku pun pusing ketika melihat aliran air itu berada di depanku. Mungkin itu alasannya orang-orang berhenti saat hujan dan airnya naik ke jalanan.

Cukup malu karena mungkin aku orang yang pertama akan jatuh yang disebabkan oleh air itu. Tapi untungnya aku bisa mengendalikan tungganganku. Tapi cukup aneh di daerah cicalengka justru tidak hujan sama sekali bahwa wajah dari jalanan pun masih terlihat bersih.

Tapi aku tidak memutuskan untuk melepas pelindung tubuhku yaitu jas hujan karena aku pikir langit udah mulai mendung mungkin beberapa menit lagi akan mulai hujan disini. Dan benar saja setelah beberapa km air itu rintik-rintik turun.

Sampai di nagreg air itu semakin deras, aku tetap melanjutkan perjalanan apalgi memang jarak rumah sudah dekat. Selama perjalan cukup enjoy dan menjadi pengalaman pertama untuk berkendara dari luar kota dengan keadaan hujan.

Ternyata dari leles ke rumahku tidak hujan dan cuaca cukup cerah, aku sedikit tersipu karena orang-orang di jalan melihat cuman aku yang pakai jas hujan padahal tidak huja sama sekali. Tapi gak masalah masih ada bukti motor dan helm yang basah menandakan bahwa perjalananku sebelumnya diguyur hujan.

Ketika aku membuka jas hujan, ternyata keponakanku melihat dan memebritahuku bahwa jaket yang aku pakai basah. Aku percaya jas hujan ini bisa melindungi tubuhku dari air ternyata berkhianant dengan menyusup masuk secara perlahan seperyi halnya musuh dalam selimut. Aku tahu bahwa jas hujan telah bersekongkol dengan air huja untuk membasahi tubuhku ini.

0 Komentar